Tips Melindungi Anak Agar Tidak Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Advertisemen
Setiap tahun ada ribuan kasus pelecehan seksual pada anak di Indonesia. Menurut catatan komisi perlindungan anak (KPAI), menyebutkan angka pelecehan seksual pada anak meningkat dari tahun ke tahun. Dari tahun 2013 ke 2014 itu naiknya 100 persen, baik mereka yang jadi korban ataupun pelaku.

Modus kejahatan seksual semakin beragam dan aneh. Hal-hal tak terduga dapat terjadi. Selain kemajuan teknologi dan kurangnya pengetahuan orang tua dalam mendidik anaknya, lingkungan pergaulan juga menjadi penyebab masalah ini.

Seiring berkembangnya teknologi, hal ini juga dapat memicu terjadinya pelecehan seksual pada anak dan remaja. Anak-anak yang aktif menggunakan sosial media berpotensi menjadi target kejahatan seksual di dunia maya. Hal ini mengingat bahwa indonesia berada di urutan ke tiga pengguna sosial media aktif di seluruh dunia dan penggunanya kebanyakan anak-anak dan remaja.

Tips Melindungi Anak Agar Tidak Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Praktisi pendidikan, Najelaa Shihab, menilai pencegahan menjadi hal yang utama agar tidak ada lagi anak-anak yang menjadi sasaran kaum pedofil. Bagaimana pencegahannya? Dia membagikan sejumlah caranya:

1. Biasakan untuk mengikuti kata "tidak" dan "stop" dari sang anak. Misalnya saat anak menolak di cium atau minta berhenti saat digelitiki. Apakah anak belajar mengendalikan dan menghormati kenyamanan tubuhnya akan ditentukan oleh reaksi orang tua.

Jangan bilang "sedikit saja", atau "masak gak mau dicium". Bayangkan bila kalimat itu diucapkan oleh orang berbahaya.

2. Contohkan anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang aman dan tidak aman untuk disentuh. Tunjukan sentuhan aman saat menjabat dan mencium tangan, tidak pada sembarang orang. Lalu jelaskan sentuhan tidak aman saat memegang bagian tubuh yang tertutup rapat.

3. Biasakan anak untuk mempercayai intuisinya terhadap bahaya. Ada situasi dimana anak merasa khawatir saat bertemu orang tertentu atau melewati jalan baru. Kemudian, jangan larang anak mendengarkan yang dirasakan.

Anjurkan anak berpikir cara untuk lebih berhati-hati, menunggu sampai ada orang yang menyeberang berbarengan, tidak duduk di taksi sebelum orangtua masuk duluan, dan seterusnya.

4. Latih secara spesifik kemampuan anak menghadapi bahaya di tempat umum. Misalnya berteriak "tolong" dan bukan "bunda/mama" akan membuat orang disekeliling lebih waspada.

Kemudian, memperhatikan letak pintu dan stop kontak setiap masuk ke ruangan baru, dan berbagai teknik sederhana lainnya.

5. Bangun secara perlahan jaringan sosial. Jaringan ini bisa lebih dari satu orang yang ikut menjaga keamanan anak. Seperti nenek dan kakak yang bisa menjadi tempat bercerita. Kenyataan yang menyedihkan tapi sering terjadi, orangtua seringkali bukan pihak yang tahu pertama tentang berbagai hal, sehingga anak perlu beberapa figur lain yang bisa membela dia.

6. Ajarkan anak tentang rahasia, apa informasi yang boleh disembunyikan dari orangtua, dan mana yang harus diceritakan walaupun diminta seseorang untuk tidak membocorkannya.

"Rahasia baik, itu kejutan yang kalau ibu tahu pasti senang -- misalnya hadiah ulangtahun. Rahasia buruk bila bikin ketakutan dan malu kalau nanti ketahuan ibu," tutur dia.

7. Tumbuhkan disiplin diri anak tanpa ancaman dan sogokan. Pelaku kekerasan seksual dengan sengaja memilih anak-anak rentan yang mudah ketakutan, kecanduan pujian dan mencari imbalan untuk melakukan sesuatu.

8. Pelaku kekerasan biasanya orang yang dikenal, menggunakan teknik "perawatan" untuk mendekatkan diri ke anak dan orangtua. Oleh karena itu, biasakan untuk terbuka dengan anak tentang orang-orang di sekitar. Ajak anak mengobservasi dan peduli pada perubahan perilaku siapapun di lingkungan.

Semoga tips yang kami berikan dapat bermanfaat untuk buah hati kita dari hal-hal yang tidak kita inginkan.
Advertisemen
Related Posts

Disqus Comments
© Copyright 2017 Hownesia- Diberdayakan oleh Blogger